BPOM Aceh Temukan Ikan Kaleng Mengandung Cacing

antero/salman

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh menemukan tiga merek ikan kaleng diduga mengandung parasit cacing.

“Ada tiga merek ikan kaleng atau sarden makarel yang diduga mengandung parasit cacing. Ikan kaleng tersebut sudah diperintahkan ditarik dari pasaran,” kata Kepala BBPOM Aceh Zulkifli di Banda Aceh, Kamis.

Ketiga merek ikan kaleng terindikasi mengandung parasit cacing tersebut yakni Botan, ABC dan Ayam Brand. Ketiga merek ikan kaleng tersebut diperintahkan oleh BPOM RI untuk ditarik dari pasaran.

Ketiga merek ikan kaleng itu merupakan di antara dari 27 merek yang positif mengandung parasit cacing. Ke-27 mereka ikan kaleng tersebut hasil temuan terbaru dari tiga merek sarden sebelumnya yang mengandung parasit cacing.

“Sebelumnya, ditemukan juga tiga produk ikan kaleng asal Malaysia yang mengandung parasit cacing. Yakni Merek IO, Farmer Jack dan Hoki. Dan kini, BPOM RI kembali temukan sejumlah merek ikan kaleng yang mengandung cacing dari sejumlah merek,” sebut Zulkifli.

Sebelumnya, BBPOM Aceh melakukan inspeksi mendadak di Suzuya Mal, Banda Aceh. Di tempat itu, ditemukan dua item ikan kaleng dengan nomor Bets yang sama sebanyak 282 kaleng yang dilarang untuk diedarkan mengandung parasit cacing.

Sementara, ada 127 kaleng ikan sarden dengan nomor Bets yang berbeda. Ikan kaleng dengan nomor Bets yang sama sudah ditarik dan dikembalikan ke pihak distributor. Begitu juga dengan nomor Bets berbeda, diminta dikembalikan ke distributor.

“Kami juga akan melakukan pengujian ikan kaleng dengan nomor Bets berbeda di laboratorium apakah mengandung cacing apa tidak,” kata Zulkifli menyebutkan.

Selain di Suzuya Mal, BBPOM Banda Aceh juga menemukan 144 kaleng ikan sarden yang termasuk positif parasit cacing di gudang distributor. Semua ikan kaleng tersebut sudah ditarik dari pasaran.

“Ikan kaleng mengandung cacing sangat berbahaya bagi tubuh dan bisa menyebabkan pendarahan di usus. Dari 27 merek mengandung parasit cacing, 16 di antaranya produk impor dan 11 merek produk dalam negeri,” demikian Zulkifli. Antara