Kadiskes : Satu-satunya Cara Cegah Difteri dengan Imunisasi

Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr. Hanif mengharapkan kepada seluruh masyarakat Aceh untuk melakukan imunisasi terhadap anak-anak mereka guna mencegah penularan penyakit difteri.

Pasalnya kata Hanif, satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran difteri adalah dengan melakukan imunisasi.

Hal demikian disampaikan Hanif pada pertemuan dengan jajaran Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rabu (13/12/2017).

Menurut Hanif, Dinas Kesehatan Aceh juga sudah berupaya melakukan berbagai penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat, baik itu melalui petugas-petugas kesehatan di Puskesmas hingga petugas di tingkat gampong tentang pentingnya Imunisasi.

“Usaha-usaha edukasi sudah kita lakukan. Karena apapun cerita petugas kami sangat menentukan, karena merekalah yang melakukan imunisasi,”lanjutnya.

Ia juga meminta kepada masyarakat agar jangan gampang percaya dengan isu-isu yang berkembang di media sosial. Oleh karena itu Hanif kembali meminta petugas di lapangan untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat akan pentingnya imunisasi.

“Karena imunisasi ini kita anggap sangat bagus untuk mencegah penyakit yang bisa dicegah, karena memang tidak semua panyakit bisa dicegah dengan imunisasi, tapi difteri ini adalah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi,”tambahnya.

Hanif mengakui, pihaknya bersama dengan RSUDZA akan terus berupaya untuk mencegah dan memutus rantai kasus difteri di Aceh. Selain itu kata Hanif pihaknya juga akan melakukan penanggulangan untuk mencegah sehingga tidak menyebar.

“Karena kasus ini bisa dicegah. Kalau memang sudah kita lakukan pencegahan masih ada yang kena, maka kita akan berusaha agar pasien yang sudah kena tidak menyebarkan ke pasien lain, maka rantai penularan harus kita putuskan,”lanjutnya lagi.

Hanif juga mengingatkan masyarakat agar tidak semua pasien difteri dirujuk ke Rumah Sakit Zainal Abidin, karena menurutnya rumah sakit daerah juga mampu menanganinya, dengan menempatkan pasien di ruangan khusus atau ruangan isoslasi. Selain itu dalam penanganannya juga tidak membutuhkan peralatan canggih, asalkan ada dokter anak dan dokter THT.

“Tidak perlu peralatan canggih asalkan ada dokter anak karena rata-rata kasusnya anak, kemudian kita ikuti prosedur penanggulangannya,”ujarnya.