PAW Nektu Diwarnai Pengusiran Perwakilan Eksekutif

Fraksi Partai Aceh (PA) resmi melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap salah seorang anggota Fraksinya atas nama Ridwan Abubakar (Nek TU). Sebagai pengganti Nektu, Ketua DPR Aceh Muharuddin resmi melantik serta pengambilan sumpah Aisyah Ismail Daud di gedung utama DPR Aceh, Senin (10/10).

Dalam sambutannya Muharuddin menyebutkan, PAW terhadap Anggota DPR Aceh dari Daerah Pemilihan Aceh Timur itu dilakukan atas usulan dari Partai Aceh.

“Saya atas nama pribadi dan DPR Aceh mengucapkan terimakasih atas segala pengabdian yang telah dilaksanakan oleh saudara Ridwan A. Bakar,   untuk lembaga DPR Aceh ini dan untuk rakyat Aceh,”kata Muhar.

Muharuddin meminta Aisyah Ismail Daud untuk segera menyesuaikan diri dengan mempelajari tata tertib dan kode etik di DPR Aceh. Selain itu ia meminta agar anggota baru segera mempelajari aturan perundang-undangan yang sesuai dengan komisi yang nantinya akan ditetapkan oleh Fraksi Partai Aceh.

“Sebagai anggota baru nanti Aisyah akan ditempatkan pada alat kelengkapan dewan oleh Fraksi, maka saudari perlu segera menyesuaikan diri,”ujarnya.

Menurut Muharuddin, sebagai anggota DPR Aceh, Aisyah diharapkan dapat memperkuat kinerja DPR Aceh serta menghindari pandangan negative masyarakat terhadap lembaga dewan. “Tunjukanlah aktifitas saudari dengan sebaik-baiknya pada berbagai kegiatan dewan,”lanjutnya

Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Fraksi Partai Aceh DPR Aceh Ridwan Abubakar sudah mendaftarkan diri ke KIP Aceh Timur untuk mengikuti Pilkada Pemilihan bupati/wakil bupati daerah setempat pada 2017 mendatang. Ridwan Abubakar maju melalui jalur perseorangan.

Sementara itu Rapat Paripurna PAW anggota DPR Aceh sempat diwarnai dengan aksi Walk Out dua anggota Fraksi partai Aceh Nurzahri dan Muhammad Harun. Kedua anggota Dewan ini mempersoalkan ketidakhadiran pihak eksekutif pada rapat-rapat di DPR Aceh.

Sebelum melakukan aksi Walk Out, Nurzahri bahkan sempat meminta pimpinan dewan agar mengusir seluruh perangkat eksekutif dari ruang paripurna, namun karena pimpinan dewan tidak merespon permintaan itu, keduanya memutuskan Walk Out.

“Saya atas nama pribadi dan anggota dewan meminta agar eksekutif diusir dari ruangan ini, kalau tidak maka kami akan keluar,”ujarnya dalam nada tinggi.

Nurzahri mengaku sangat tersinggung dengan sikap dari pihak eksekutif yang tidak menghargai lembaga dewan, “Kalau tidak kita putuskan saja, eksekutif jalan sendiri dan legislative jalan sendiri,”lanjutnya lagi.