Mahasiswa UMS Malaysia Belajar Zakat ke Aceh

Sejumlah mahasiswa Keuangan Islam dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) mempelajari seputar pengeloaan zakat di Aceh. Salah satu objek kunjugan mereka yaitu ke Baitul Mal Aceh, Selasa (04/10/2016).

Kedatangan rombongan dari kampus antar bangsa labuan tersebut disambut langsung Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA. Sedangkan dari Malaysia berjumlah 29 orang yang diketuai M Hidhir bin Hamzah.

M Hidhir menjelaskan maksud kedatangan rombongannya ke Aceh ingin mengetahui dan membandingkan bagaimana pengelolaan zakat di Aceh dengan Malaysia. Kajian tersebut menjadi hal sangat penting bagi mereka karena zakat bagian dari ekonomi Islam.

“Selain ingin pelajari dan berkongsi tentang zakat ke Aceh juga sebagai silaturahmi antara dua negara yang pernah punya hubungan erat,” kata M Hidhir.

Pada kesempatan tersebut Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA memperkenal apa saja program unggulan Baitul Mal Aceh selama ini dalam pemberntas kemiskian. Dilanjutkan dengan penjelasan potensi-potensi zakat serta dari sektor mana saja zakat dipunggut dan bagaimana mekanisme zakat di Aceh.

“Beda Aceh dengan Malaysia, disana ada dua lembaga zakat, satu lembaga pemungut dan satu lagi penyalur, kalau di Aceh keduanya bernaung di bawah satu lembaga,”ujarnya.

Kemudian Armiadi juga menjelaskan tugas dan fungsi Baitul Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/kota se Aceh. Selama ini zakat di Aceh kelola oleh pemerintah langsung, artinya zakat dari penghasilan pegawai negeri di bawah kendali pemerintah Aceh dipotong secara otomatis oleh bendaharu umum daerah.

Salah seorang dari rombongan menanyakan terkait salah satu program unggulan Baitul Mal Aceh yaitu program Bantuan Rumah Dhuafa dan bagaimana memilih agar tetap sasaran. Armiadi menjawab sudah ada ketentuan khusus yang masuk kriteria penerima rumah tersebut, salah satunya fakir miskin yang berpenghasilan rendah serta memiliki rumah tak layak huni.

Begitu juga dengan beberapa pertanyaan lain seperti adakah Baitul Mal memberi bantuan bulanan kepada fakir miskin? Tentu saja ada jawab Armiadi. Di Baitul Mal Aceh ada yang namanya program santunan fakir uzhur seumur hidup. Mereka diberikan bantuan setiap bulan hingga akhir hayat.

“Selain itu ada beasiswa penuh yang bantuannya juga diberikan setiap bulannya. Program ini sudah ribuan mustahik yang dibantu Baitul Mal selama ini,”tandasnya.

Terakhir ditanya apakah penerimaan zakat di Aceh masih minim dibanding mustahik yang harus dibantu? Armiadi menjawab tentu saja masih kecil, karena mustahik yang harus dibantu masih sangat banyak dibanding orang memiliki kesadaran bayar zakat.