Banda Aceh Dijajaki Sebagai Tempat Persinggahan Kapal Pesiar

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa`aduddin Djamal , menerima kunjungan tim Security Islamic Cruise Singapore di Ruang Rapat Walikota, Balikota, Kamis (18/8/2016) sore. Pertemuan ini membicarakan tentang kemungkinan menjadikan Banda Aceh sebagai tempat persinggahan kapal pesiar.

Nahkoda kapal pesiar Islamic Cruise Singapore, Kapten  Fong, menjelaskan tujuannya berkunjung ke Banda Aceh untuk meninjau kelayakan Pelabuhan Ulee Lheu dan Pelabuhan  Malahayati sebagai tempat persinggahan kapal pesiar. Sebelumnya ia telah berdiskusi dengan pihak Pemerintah Kota Sabang dan telah disetujui untuk menjadikan Sabang sebagai Internasional Port untuk kapal pesiar.

“Kami ingin memajukan industri kapal pesiar dan memajukan pariwisata di kota ini, karena Banda Aceh menjadi tujuan favorit terutama wisatawan dari Malaysia. Oleh karena itu kami mengusulkan Pelabuhan Ulee Lheue agar dijadikan sebagai Internasional Port yang tentunya bisa berlabuh kapal pesiar dan hal ini akan sangat berdampak pada kemajuan paiwisata dan ekonomi kota ini,” ujar Kaptn Fong.

Kapten Fong mengatakan Kapal pesiar berukuran sangat besar dan menampung 2.400 penumpang. Sementara itu pelabuhan Ulee Lheue tidak bisa menjadi tempat berlabuh kapal pesiar tersebut karena kedalaman laut di pelabuhan tersebut sangat dangkal.

“Untuk bisa merapatnya kapal pesiar, kedalaman laut di pelabuhan minimal 10 meter. Jika pemerintah kota Banda Aceh ingin menyulapnya sebagai pelabuhan Internasional Port yang bisa berlabuh kapal pesiar, maka lautnya harus digali hingga bisa berlabuh kapal pesiar,” ungkap Fong.

Saat ini, lanjut Fong, kapal pesiar lebih diminati wisatawan dari pada menggunakan pesawat terbang. Saat ini di Aceh hanya Sabang yang bisa berlabuh kapal pesiar, padahal Banda Aceh lebih difavoritkan untuk tujuan wisata Islami.

Menanggapi hal tersebut, Illiza menyambut positif usulan dan tawaran dari tim Security Islamic Cruise tersebut, apalagi Banda Aceh merupakan wilayah strategis di Indonesia dan mempunyai banyak potensi untuk dijadikan objek wisata islami.

“Intinya saya sangat mendukung karena ingin menjadikan Banda Aceh ini menjadi lebih maju. Apalagi kita punya potensi sangat tinggi untuk tujuan wisatawan apalagi untuk tujuan wisata islam dan sejarah. Banda Aceh tidak terlalu luas dan mampu dijangkau keseluruhan dengan waktu singkat yang sangat cocok untuk wisatawan kapal pesiar yang biasanya hanya singgah dalam waktu singkat,” ujar Illiza.

Illiza mengatakan hal ini tidak lah mudah dan membutuhkan proses karena harus membicarakan dulu dengan Pemerintah Aceh dan Pusat. Ia juga mengatakan pembangunan pelabuhan menjadi Internasional Port ini membutuhkan pihak ketiga, yaitu investor. Illiza berjanji akan membicarakan hal ini dengan pihak-pihak terkait dalam waktu dekat.

Amiruddin Tjoet Hasan selaku Kabid Pengembangan Usaha Pariwisata Disbudpar Aceh yang mendampingi tim Security Islamic Cruise Singapore ini mengatakan wisatawan kapal pesiar yang ingin ke Banda Aceh harus transit dulu di Sabang dan terpaksa melanjutkan perjalanan menggunakan kapal Feri dari pelabuhan Sabang ke Ulee Lheue yang hanya bisa menampung 800 penumpang sekali berangkat. Sedangkat penumpang kapal pesiar berjumlah hingga 2.400 penumpang.