Koperasi Hadapi Banyak Tantangan

Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, agar koperasi di Aceh lebih sehat dan mandiri, Pemerintah akan memfokuskan pembangunan koperasi pada dimensi penguatan kelembagaan.

Dia mengakui, upaya memperkuat posisi koperasi memang bukan pekerjaan mudah mengingat kuatnya pengaruh arus globalisasi yang mendorong masyarakat untuk cenderung mengabaikan peran-peran sosial.

Dalam situasi seperti ini, usaha koperasi menghadapi tiga tantangan sekaligus yaitu harus mampu memperbaiki citranya sebagai kumpulan golongan ekonomi lemah dan berusaha menghindar dari tuduhan sebagai lembaga pemburu fasilitas, serta harus bersaing dengan lembaga swasta yang mulai banyak bergerak untuk sektor usaha kecil tapi lebih berorientasi kapitalis.

“Juga harus berhadapan dengan perubahan sosial di kalangan masyarakat, terutama akibat meningkatkan semangat individualistis yang mengakibatkan koperasi mulai dianggap kuno, tradisional dan tidak bermanfaat,” kata Gubernur Zaini Abdullah,  pada Pembukaan Workshop Teknik Pendampingan Koperasi se-Aceh, yang diprakarsai Biro Perekonomian Setda Aceh, di Hermes Palace Hotel Banda Aceh, Selasa (2/9/2014) malam.

Oleh sebab itu, tambah Zaini Abdullah, Pemerintah akan berupaya dengan sekuat tenaga agar semangat berkoperasi kembali diperkuat di Aceh. Langkah mensosialisasikan kembali koperasi di Aceh melalui program revitalisasi koperasi sebenarnya sudah menunjukkan hasil lumayan bagus. Sampai akhir tahun 2013 di Aceh terdapat 7.720 unit koperasi, di mana 3.855 unit di antaranya masih tergolong aktif dengan jumlah anggota lebih dari 500 ribu orang.

“Banyaknya koperasi yang tidak aktif di Aceh antara lain disebabkan karena kesulitan dalam mendapatkan akses modal atau juga karena sistem kepengurusan yang tidak berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Google ads